SEKAT (Cerpen Karya Safira Dhita Pangesti)

SEKAT
(Oleh : Safira Dhita Pangesti)

Kita dibatasi sekat tebal yang tak dapat diterjang. Terhalang sekat yang tak mampu ditembus namun mampu menghunus.

Pagi itu Narajengga seolah sedang bertatap muka dengan sang Surya padahal yang ditatap hanya replika sang Surya yang terpasang di atas kamarnya. Hari Minggu membuatnya terjebak di dalam kamar karena kasur saat itu seperti memunculkan gravitasi seutuhnya. Wajah khas baru bangun tidur saja masih terlihat jelas di wajahnya.

“Narajengga, Diandra nyariin tuh dibawah.” Teriak Bunda dari luar. Tentu saja hal itu disambut oleh Narajengga yang langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, setidaknya wajahnya akan lebih terlihat segar dan menawan daripada ia langsung turun kebawah.
“Mana Diandra,Bun?” Tanya Narajengga saat kakinya berhasil berpijak di depan tangga. Diandra itu kesayangan Jengga katanya. Saat ini beruntung Tuhan masih berpihak pada mereka berdua. Manusia yang saling berharap pada sang kawan tetapi bisa saja menjadi lawan ketika Tuhan melawan.

“Diandra dibawah tuh. Jangan lupa ke gereja hari ini ya, Ga. Bunda kesana duluan.” Bunda memeluk Narajengga lalu pergi menuju garasi untuk menggunakan mobilnya. Iya, Narajengga memang harus berdoa kepada Tuhan di tempat ibadahnya kali ini. Tapi ia lebih memilih untuk menemui Diandra terlebih dahulu. Siapa tahu nanti ia bisa bercerita pada Tuhannya tentang manusia yang terlahir dengan Tuhan yang berbeda darinya.

“Diandra?”

“Hai, Jengga. Aku ganggu ya? Maaf aku lupa hari ini jadwalmu berdoa.” Narajengga tersenyum menatap sahabatnya, ah bukan hanya sahabat jika di hati Jengga.

“Nggak apa-apa kok, Di. Mau ngajak ikut car free day ya?”

Jengga duduk di samping Diandra. Pemuda Alundra itu tersenyum menatap Diandra. Tetapi kali ini Diandra tak ikut tersenyum lebar seperti biasa. Raut wajahnya tak bisa dibaca. Jengga bingung.

“Narajengga, bisa berbicara serius sebelum kamu pergi ke tempat ibadahmu?”

Jengga mengangguk bingung. Senyum Diandra kali ini benar-benar berbeda, tak lagi sama seperti dulu. Tampak seperti bukan Diandranya.

“Jengga, dari awal saya merasa ada masalah sama kita, ah tepatnya sama saya. Saya terlanjur menyimpan perasaan yang terlalu dalam. Ini salah. Tuhan kita jelas tak mengijinkan. Maaf saya baru bilang sekarang, saya baru punya keberanian. Jengga, saya mau agar kamu tidak seperti saya. Menyimpan perasaan padahal seharusnya tidak. Berusaha keras memiliki tapi tak perlu.” Diandra menahan tangisnya mati-matian. Maniknya kini sedang berusaha keras menahan agar tak menjadi hujan keras.

“Tapi saya sudah punya rasa itu sejak lama, Diandra.” Jengga merubah raut mukanya. Bukan ini akhir yang Jengga mau.

“Hilangkan ya? Ini semua salah. Tuhan kita gak akan mengijinkan. Kamu dengan salibmu, saya dengan tasbih. Kamu dengan kitabmu aku, saya dengan Al-Quran. Semuanya berbeda. Sudah jelas. Kita ini dibatasi sekat tebal yang tidak bisa ditentang. Kita sama-sama sudah nyaman dengan semua ini. Saya berhenti sekarang.”

Tangisnya kali ini pecah. Hujan turun melalui pipinya. Diandra juga tak ingin akhir yang seperti ini. Tapi sejak awal memang hatinya telah bersalah. Benar-benar salah.

“Diandra, saya gak keberatan kamu menghapus rasa itu sama saya. Tapi tolong jangan buat saya jauh dari kamu. Biarkan saya terus disisi kamu tanpa harus memiliki. Jujur saya sakit sekali.”

Mereka berdua terhanyut dalam perasaan masing-masing. Pikiran mereka saling bertarung melawan takdir. Setidaknya sakit ini akan cepat hilang. Memang salah mereka. Saling berdoa untuk bahagia walau bukan untuk menjalin hubungan bersama.

Angin, Mentari dan langit biru kali itu menjadi saksi bisu diantara mereka. Manusia yang saling menyimpan rasa itu akhirnya terpaksa menentang dan melawan rasa dalam hati. Mereka ditutupi sekat. Tak tertembus, namun menghunus. Semuanya berakhir dalam takdir yang menghadir. Begitulah kisah antara mereka diakhiri.

Categories:
Similar Collection