Prasangka, Cerpen Karya Elsa Novelia

PRASANGKA
ELSA NOVELIA


   Suara petir terdengar samar samar di telinga. Hujan deras yang disertai angin membuat Hendery memeluk dirinya sendiri. Dan wanita yang duduk tidak jauh darinya membuat Hendery takut karena terlihat pucat seperti hantu. Hendery tidak sadar jika dari tadi Hendery terus saja memperhatikan wanita itu.

“Hai!!! Anak baru ya?” Tanya Hendery kaku, niatnya adalah mengajak wanita itu berkenalan tetapi tertunda ketika Hendery dihadiahi tatapan menakutkan dari wanita itu.

   Lama Hendery menunggu bus datang dan akhirnya bus datang dan Hendery bisa pulang kerumahnya.

“Mama!!! Hendery pulang...” Teriak Hendery ketika sampai rumahnya.

“bagaimana sekolahmu? Ya ampun bajumu basah, cepat mandi nanti kamu masuk angin,” Ucap mama Hendery ketika melihat anaknya basah kuyup.

“iya iya, oh iya ma tadi Hendery bertemu dengan anak perempuan seperti hantu,” Ujar Hendery tampak serius.

“Sudah tidak usah berhalusinasi, cepat mandi!” Perintah mama Hendery.

   Waktu berjalan begitu cepat. Seperti biasanya, Hendery berangkat sekolah lebih awal. Hanya ada beberapa siswa yang sudah berangkat. Henderrry melotot ketika wanita yang kemarin dia temui duduk di tempatnya.

“Permisi, tetapi ini tempatku...” Ucap Hendery lirih. Wanita itu tidak menggubris perkataan Hendery dan berlalu pergi ke tumpat duduk lain dengan menyeret tas hitam milik wanita itu sendiri.

“Lihat itu! Terlihat misterius,” Bisik para siswa di kelas Hendery.

“hantu!” Sahut siswa yang lainnya.

   Gosip gosip siswa satu kelas terus saja terdengar di telinga Hendery. Hendery memperhatikan wanita yang menjadi buah bibir itu, tampak diam dan tenang seperti tidak terjadi apa apa.

“Hai!’’ sapa Hendery terlihat takut kepada wanita itu.

“hai...” Lirih wanita itu lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.

   Hendery berfikiran akan bertanya tanya kepada wanita itu selama jam istirahat ini. Hendery sangat penasaran dengan anak baru yang satu ini.

“sebelumnya, perkenalkan namaku Muhammad Hendery kamu bisa memanggilku Hendery,” Ucap Hendery memperkenalkan diri dan mengajak wanita itu bersalaman namun Hendery terabaikan dan memilih untuk bertepuk tangan.

“Airin...” Jawab wanita yang diketahui bernma Airin.

   Hendery memperrhatikan barang barang yang dikenakan Airin. Serba hitam putih dan menyeramkan. Seperti korban pembantaian, pikir Hendery setelah melihat barang barang Airin yang bergambar tengkorak.

“Kamu suka barang barang seperti ini?” Tanya Hendery penasaran bercampur takut.
“Aku suka semua ini, aku selalu disangka psikopat, wanita misterius dan yang lainnya,” Lirih Airin menjelaskan tanpa melihat wajah Hendery.

Kring.......

   Bel istirahat selesai telah berbunyi, semua siswa kembali ke tempat duduknya masing masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.

“Airin silahkan kerjakan soal nomor satu di papan tulis!” Perintah pak guru matematika sambil menunjuk Airin dengan spidolnya.

   Airin berjalan menuju papan tulis. Banyak siswa yang menatap Airin sinis dan juga takut. Airin memulai menulis di papan tulis. Tulisan Airin teregolong rapi dan juga jawaban Airin sangat benar.

“Aku yakin dia menggunakan ilmu hitamnya agar bisa mengerjakannya,” Bisik Chitta siswi cantik yang duduk di barisan depan.

“Aku juga berfikiran seperti itu,” Sahut siswi lainnya.

   Pak guru mulai terganggu dengan siswa siswi yang berbisik bisik tentang Airin. Pak guru juga menyadari jika muridnya itu membicarakan tentang karakter Airinyang berbeda dari anak biasanya.

“hei anak anak kalian tidak boleh berprasangka buruk tentang Airin seperti itu. Saya tau pasti kalian berfikiran seperti itu karena tingkah dan selera Airin yang berbeda dari kalian,” Ucap pak guru membuat semuanya terkejut dan juga Hendery yang sedang memperhatikan Airin menulis.

“Benar pak, semua selalu berfikiran juka Airin itu psikopat, wanita misterius dan yang lainnya” Seru Hendery sambil berteriak ketika Airin sampai di tempat duduknya dan membuat mata semua siswa tertuju kepada Hendery.

“Anak anak, semua orang memiliki selera masing masing dan kita harus bisa menghargai selera masing masing dan bukan mengejeknya,” Jelas pak guru menasihati semua muridnya dan seketika semua siswa merasa bersalah telah berbuat jahat kepada Airin.

“Kalian tidak bisa mengatakan Airin adalah wanita misterius dan sebagainya hanya karena seleranya berbeda  dari kalian,” Jelas pak guru lagi.

   Semenjak ucapan pak guru tadi, Chitta dan yang lainnya meminta maaf kepada Airin sepulang sekolah dan selalu mengajak Airin bermain bersama.

“Terimakasih, kalian memang baik,” Lirih Airin masih seperti biasanya. Walaupun begitu, Airin sudah tidak pernah diejek sebagai wanita misterius.
Categories:
Similar Collection